0

Detikaceh.com - Aceh saat ini jika dilihat dari segi statistik penduduknya adalah 99 % muslimnamun ironisnya, menduduki tingkat no 2 termiskin dari seluruh propinsi di Indonesia.Di atas propinsi Papua di ujung timur Indonesia yang penduduknya masih banyaktelanjang. Pasca bencana tsunami, menurut laporan Bank Dunia 2007-2008 diperkirakanAceh menduduki rangking pertama dalam kemiskinan yang mencapai 40 %. 

Dari latarbelakang sejarah, Aceh jika dibandingkan dengan Papua ataupun daerah lainnya diIndonesia, misalnya dalam pembangunan peradaban dan pengetahuan, Aceh pernahmenjadi pusat penyebaran peradaban baru di Nusantara yang lahir dari asimilasiperadaban dunia dari Arab, Persia, India, Cina ataupun Eropah, yang kini menjadibudaya utama di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dan Malaysia. Bahkan bahasakebangsaan Indonesia, Malaysia dan Brunei adalah bahasa yang telah digunakan olehKerajaan-Kerajaan Islam awal di Aceh, baik di Jeumpa, Perlak, Pasai dan Aceh Darussalam. 

Artinya bahwa Aceh pernah menjadi pusat kegemilangan di AsiaTenggara, namun kenapa saat ini Aceh mengalami kemunduran drastis, jauh dariwilayah yang pernah menjadi wilayah taklukannya, seperti Malaysia dan mungkin jugadaerah Jawa lainnya.Sebagian peneliti berkesimpulan bahwa kemunduran Aceh dalam segala liniadalah akibat konflik demi konflik yang telah melanda daerah tersebut. 

Bermula darikonflik internal pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, konfik dan peperangansepanjang 500 tahun dengan kolonialis dan imprialis kafir Barat, konflik internal antaraUlama Pembaharu dengan Ulama Tradasional yang didukung Uleebalang menjelangkemerdekaan Indonesia dan berlanjut dengan konflik yang disertai peperangan di era Soekarno dan Soeharto. Konflik yang telah memusnahkan potensi SDM dan peradabanmasyarakat Aceh. 

Dan akhirnya konflik demi konflik telah melahirkan penekanan,penderitaan, kemiskinan, kemunduran masyarakat dalam segala lini kehidupannya.Keadaan ini diperparah dengan bencana tsunami pada 26 Desember 2004 lalu.Ketika kita mengunjungi Aceh sekarang, terutama tempat-tempat yang pernahdicatat sejarah sebagai pusat peradaban seperti Jeumpa, Perlak, Pasai dan Banda Aceh.Maka kita tidak akan percaya bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat pengembanganperadaban selama berabad-abad. 

Di pusat Kerajaan Islam Pasai misalnya, di sekitarGeudong Kecamatan Samudra Aceh Utara, kita tidak akan melihat bekas-bekaskemegahan dan keagungan Kerajaan sebagaimana diceritakan Marco Polo dan IbnuBatutah pada awal abad 14 M. Di sana kini tidak ada bekas-bekas istana ataupun puing-puingnya, kecuali hanya maqam-maqam para Sultan. Peninggalan Kerajaan Pasaitenggelam hilang ditelan bumi, kita tidak percaya di sana pernah ada pusat kerajaanterbesar di Asia Tenggara pada abad 12 sampai 15 M. Konon penjajah Belanda telahmenghilangkan semua bukti-bukti kegemilangan Pasai dan bahkan menjadikannyasebagai tempat pembuangan para penderita lepra.Sementara jika kita ke Banda Aceh, yang telah menjadi pusat Kerajaan AcehDarussalam, kitapun tidak mendapatkan bekas-bekas keagungan peninggalan Sultan Iskandar Muda. 

Misalnya di mana letak Istana Darud Donya yang kemegahannya telahmembuat terperangah para pengunjung dari Prancis ataupun Inggris itu. Pasca bencanatsunami, Banda Aceh, terutama yang ditengarai sebagai pusat Kerajaan AcehDarussalam telah berubah menjadi komplek perumahan kumuh yang tidak teratur,penuh dengan rumah-rumah bantuan yang tidak layak huni. Demikian pula dengantingkat kesadaran masyarakatnya yang sangat jauh tertibnya jika dibandingkan denganmasyarakat Melayu Kuala Lumpur misalnya. 

Kegemilangan Islam dan kesadarankeislaman pada masyarakat Aceh secara umum seakan telah sirna, walaupun secaraformal diberlakukan syari’at Islam. Dayah yang menjadi kebanggaan Aceh sudah mulaisepi dan tidak diminati generasi muda lagi.Benarkah konflik demi konflik yang telah mengantarkan Aceh yang dulunyasebagai pusat pengembangan peradaban dan pengetahuan Islam menjadi sebagai propinsi paling tertinggal dan termiskin di Indonesia? Jika konflik telah menjadikan Aceh terpuruk sedemikian parahnya, apakah para pemimpin Aceh tidak menyadari,bahkan konflik telah menghancurkan masyarakat mereka sendiri, dan tidak berusahakeluar dari konflik demi konflik yang menambah keterpurukan dan kemunduranmasyarakatnya. 

Jika konflik memang dianggap bertanggung jawab terhadapkemunduran, kenapa semua pihak, terutama seluruh komponen masyarakat Aceh,tidak mengakhiri konflik demi konflik ini, agar Aceh kembali bangkit dan meraihkegemilangannya kembali? Nah disinilah masalahnya, apakah konflik demi konflikyang telah menghancurkan Aceh ini hanya melibatkan internal masyarakat Aceh saja?Ternyata memang konflik demi konflik yang terjadi di Aceh tidak sesederhana yang kitafikirkan.Menurut pengamatan penulis, setelah mencoba meneliti, menelaah lebih jauhdan mendalam, konflik demi konflik yang menyebabkan keterbelakangan Aceh secara menyeluruh tidak lain adalah salah satu akibat dan buah dari sebuah skenario panjangupaya-upaya tersistematis untuk menghancurkan Aceh dengan sejarahkegemilangannya yang berlandaskan Islam. 

Konflik berkepanjangan yang terjadi diAceh dirancang secara sistematis, terorganisir dan melibatkan banyak fihak yangbertujuan untuk menghilangkan eksistensi Aceh dengan segala perbendaharaan peradabadan dan sejarah kegemilangan masa lalunya yang sangat erat berkaitan dengan Islam.Sejarah mengungkapkan bahwa Aceh sejak awal abad ke 8 M adalah promotordan benteng pertama Islamisasi di Asia Tenggara yang telah menggusur peran Hindu-Budha dengan peradaban dan budayanya. Pada era kolonialisasi, Aceh adalah bentengsekaligus garda terdepan melawan agresi penjajah kafir Portugis, Inggris, Belandamaupun Amerika. 

Ketika seluruh Nusantara sudah bertekuk lutut pada penjajah kafir,para pejuang mujahidin Aceh masih berperang sampai titik darah penghabisanmengusir musuh agama dan sekaligus musuh kemanusiaan itu. Aceh menjadi hambatan terbesar kolonialisasi, baratisasi, kafirisasi ataupun nasionalisasi yangdiserukan penjajah kafir dan antek-anteknya yang telah mereka didik. Bahkan Aceh menjadi benteng Islam dan Syareat Islam ketika negara nasionalis Pancasiladiproklamirkan Soekarno dan diteruskan Soeharto dengan kebijakan asas tunggalnya.Akhirnya sampai saat ini, tidak diragukan Aceh menjadi benteng pertahanan terakhirIslam di Asia Tenggara yang menjadi incaran musuh-musuh Islam, baik kaum Salibis,Zionis dan sekutu-sekutunya.

Perencanaan besar untuk menghapuskan masa lalu yang akan berdampak padamasa depan Aceh inilah yang patut dijadikan sebagai faktor utama yang telah menimbulkan dilemma Aceh,yang kemudian menimbulkan konflik demi konflik, perangdemi perang, pemberontakan demi pemberontakan, intrik demi intrik, perpecahan demiperpecahan yang pada akhirnya mengantarkan Aceh pada jurang keterbelakangan,kemiskinan, kemunduran dan kebodohan sebagaimana yang dialaminya saat ini.Prof. Ismail R. Faruqi dalam sebuah kuliahnya pada awal tahun 80an telahmengingatkan bahwa diantara strategi musuh-musuh Islam untuk menghancurkanmasa depan Islam adalah dengan memisahkan generasi muda muslim dari akar tradisidan keagungan sejarah masyarakatnya. 

Generasi muda dihalang-halangi untuk mempelajari dan mengetahui keagungan sejarah nenek moyang mereka dan dirubah orientasinya agar bangga dengan keagungan penjajah, sistem penjajah, sejarah penjajahdan tokoh-tokoh penjajah. Agar generasi muda ini dapat menjadi boneka-boneka penjajah yang menyerukan ide-ide sesatnya, seperti apa yang dilakukan Mustafa Kemal Atta Turk yang telah menyerukan sekulerisasi untuk menghilangkan keagungan masalalu Khalifah Ustmaniyah.

Usaha-usaha pelumpuhan atau penaklukan peradaban Aceh yang dilakukanmusuh-musuhnya sepanjang sejarah Aceh telah mempengaruhi pertumbuhan danperkembangan masyarakat Aceh selanjutnya. Mengambil istilah Huntington, benturan peradaban (clash of civilization) inilah yang menjadi penyebab utama kemunduran Aceh,yang kemudian menimbulkan segala akibatnya. 

Dan kini ironisnya sebagaian besar generasi muda Aceh mulai tercabut dari akar masa lalunya, terputus dengan sejarah kegemilangan dan keagungan nenek moyangnya dan melupakan peninggalan peradaban yang diwarisi pendahulunya. Yang paling parah, sebagaian besar merekatidak peduli dengan nilai-nilai kesempurnaan Islam yang telah mengantarkan generasi pendahulunya menuju keagungan dan kejayaan akibat lain dari masuknya faham sekulerisme kafir Barat yang dibawa relawan asing pasca tsunami.

Sejak Aceh menggapai puncak kegemilangnnya, terutama sejak zamanpemerintahan Sultan Malikus Saleh di Pasai pada awal abad ke 13 M sampai SultanIskandar Muda di Aceh Darussalam pada awal abad ke 17 M, tidak henti-hentinyadatang musuh-musuh yang ingin melumpuhkan dan menaklukkan gerakankebangkitan Aceh sebagai pusat peradaban baru yang berdasarkan ajaran Islam.

Demikian pula letak geografi Aceh di ujung barat pulau Sumatra yang sangat strategis,yang menjadi laluan perdagangan atau penyebaran peradaban antara dunia Eropaklasik, Arab dengan Cina melalui jalur laut sejak 2000 tahun sebelum masehi telah menarik banyak bangsa untuk menguasainya sebagai pertimbangan penguasan jalur ekonomi.

Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit pada abad ke 13 M dibawah pimpinanMahapatih Gajah Mada telah menyerang Kerajaan Islam Pasai yang sedang bangkit menjadi pusat Islamisasi di Nusantara, demikian pula halnya dengan Kerajaan Siam- Budha di sebelah Barat. 

Kerajaan Hindu-Budha di Nusantara telah bersekutu untukmenghancurkan Kerajaan Islam Pasai sebagai pusat Islamisasi yang semakin berpengaruh dan kuat. Namun berkat kegigihan dan keberanian para mujahidin Kerajaan Pasai yang berjuang menegakkan kebenaran Islam telah mampu mengusirpara tentara kafir tersebut dengan memperoleh kemenangan besar sebagaimana dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. 

Kerajaan Pasai bangkit semakin kuat dan berpengaruh,terutama setelah kejatuhan Bagdad pada tahun 1258 M dan menjadi pusat Islamisasi diAsia Tenggara, bahkan menjadi pusat Khilafah Islamiyah untuk menentang keganasan tentara Mongol. Akhirnya kebesaran Pasai telah mengakhiri riwayat Kerajaan Jawa-HinduMajapahit dengan diproklamirkannya Kerajaan Islam Demak yang didukung oleh Wali Sembilan yang berasal dari Pasai. Kekuatan dan kebesaran Kerajaan Islam Pasai telah mendorong pula lahirnya Kerajan Islam di Champa, Pattani, Kelantan, Malaka, Borneo,Bugis-Makassar sampai di Maluku dan Fak-Fak di Papua yang memiliki kekerabatan dengan Pasai. 

Kemenangan Pasai yang telah mengislamkan Asia Tenggaramenimbulkan dendam dan sakit hati para generasi penerus Kerajaan Hindu-BudhaMajapahit dan pelanjut fanatik peradabannya yang panjang, saat ini di kenal denganKejawenisme. Sementara Kejawenisme adalah sebuah faham yang kemudian berkembang luas di kalangan masyarakat Jawa, sebagai sebuah singkritisme atau perpaduan antara semua aliran kepercayaan dan agama-agama, termasuk Islam dan Kristen. Para penerus Majapahit dan Kejawenisme yang dikalahkan Pasai menungguwaktu tepat untuk bangkit dengan peradaban mereka dan menguasai kembali sertamengadakan balas dendam peradaban terhadap Pasai atau penerusnya Aceh.

Kemenangan bangsa Barat atas kaum Muslim di Yerusalem, yang dilanjutkandengan pengusiran dan pembantaian Muslim di Eropa, dibawah komando Alfonso deAlbuquerque dari Portogis, tentara Salib melanjutkan penaklukkannya ke AsiaTenggara, terutama Malaka dan Pasai yang dikenal sebagai pusat Islamisasi Nusantara.Pada tahun 1511 Portogis berhasil menguasai Malaka dan mendirikan benteng untukmemperkuat kedudukannya dalam menguasai pusat Islamisasi Nusantara di Pasai.

Selanjutnya pada tahun 1520 Portogis menyerang Pidie dan mendudukinya. Melalui bentengnya di Malaka dan Pidie inilah Portugis berhasil menguasai Pasai pada tahun1521. Kejatuhan Pasai ke tangan penjajah Kristen Portugis telah menghakhiri peranPasai dan selanjutnya kedudukannya sebagai patron Kerajaan Islam Nusantara digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang berpusat di Bandar Aceh yang diproklamirkan oleh Sultan Ali Mugayyat Syah pada tahun 1514 M, atau bersamaan dengan mulai melemahnya kekudukan Pasai dalam menghadapi serangan Portugis.Untuk memperkuat posisinya sebagai pengganti peranan Kerajaan Islam Pasai,Kerajaan Aceh Darussalam menguasai kembali kerajaan-kerajaan kecil yang mulai memisahkan diri akibat lemahnya Pasai. Setelah memiliki kekuatan yang cukup,Kerajaan Aceh Darussalam membebaskan Pidie dari cengkraman Kolonialis Portogisdan mempersiapkan untuk membebaskan Pasai, Malaka dan lain-lainnya. 

Perang membebaskan Malaka yang diprakarsai Kerajaan Aceh Darussalam juga melibatkan Kerajan-Kerajaan Islam di Tanah Jawa sampai Bugis-Makassar, yang memang merupakan sebuah jaringan kekuatan Islam masa itu. Dalam menghadapi peperangandengan Kerajaan Aceh, kaum kolonialis Barat, baik Portugis, Francis, Inggris maupun Belanda telah bersekutu satu sama lainnya. 

Ada yang mengadakan perjanjian dagangsecara halus seperti Inggris, sementara Belanda tetap menggunakan jalur peperangan.Namun hakikatnya para imprialis-kolonialis Barat Kristen ini memiliki misi yang sama,yaitu untuk menghancurkan Aceh sebagai benteng utama Islam di Asia Tenggara.Itulah sebabnya, setelah Belanda menguasai seluruh wilayah Indonesia, namun tetapnekad untuk menguasai Aceh walaupun dengan biaya besar atas dukungan sekutu-sekutu Kristen Baratnya. 

Sejarah membuktikan bahwa Aceh tidak mudah ditaklukkan, perlawanan demi perlawanan terus berkobar, yang pada akhirnya melemahkan logistik Belanda sendiri.Walaupun sudah berperang dengan Kerajaan Aceh sejak pertengahan abad 16 sampaiawal abad 20, Belanda tidak berhasil menaklukkan Aceh secara total, hanya menguasai jalur perdagangan laut dan terus mendapat perlawanan sengit para pejuang Aceh.Kekalahan demi kekalahan yang dialami kolonialis Kristen Barat telah menimbulkan dendam mereka dan penerusnya, terutama penganut agama mereka yang menungguwaktu untuk membalas kekalahan pendahulu mereka. Itulah sebabnya tidakmengherankan, gerakan missionaris Kristen berlomba-lomba menyerang Aceh pascabencana tsunami dengan berbagai kedok organisasi kemanusiaan. Karena hanya Acehlah yang tidak dapat dikristenkan oleh penjajah yang membawa agamanya,bahkan Aceh menjadi benteng terakhir bagi misi kristenisasi di Asia Tenggara.Ketika Indonesia akan memperoleh kemerdekaannya, para kolonialis Kristen initelah mempersiapkan kader-kader terbaik mereka untuk menduduki jabatan pentingdalam negara baru bernama Indonesia, berasal dari Hendos Nesos (Kepulauan Hindu).Para kader kolonialis ini telah bersatu dengan kader-kader penerus Majapahit danKejawenisme sebagai musuh Islam dan menghalangi Islam sebagai dasar negaraIndonesia merdeka dan menggagas idiologi campuran yang bernama Pancasila. 

Dan sekali lagi masyarakat Aceh dibawah pimpinan para alim ulama menentang idiologiyang tidak mengakomodir Syareat Islam ini. Maka tampillah Tgk. M. Daud Beureueh memimpin perlawanan masyarakat Aceh sebagai benteng utama Islam dan Syareat Islam. Perlawanan masyarakat Aceh pasca kemerdekaan lebih bersifat idiologis, karenapenolakan mereka terhadap dasar negara yang tidak mengakomodir pelaksanaan syariah Islam sebagaimana tuntutan masyarakat Aceh.Perlawanan historis dan idiologis masyarakat Aceh ironisnya dijawab parapetinggi Indonesia yang dipimpin Soekarno maupun Soeharto dengan peperangan demipeperangan. 

Generasi Aceh menyambut tantangan perang dengan semangat membara,karena perang memang sudah menjadi tradisi dan jalan hidup masyarakat Aceh sejakribuan tahun yang lalu. Mereka tidak gentar sedikitpun menghadapi perang yang dilancarkan Jakarta, bahkan perang telah membangkitkan kesadaran sejarah merekasebagai sebuah bangsa penakluk yang mewarisi keberanian dan penaklukan generasi pendahulu mereka sejak zaman nabi Ibrahim as, Iskandar Zulkarnain, Muhammad sawdan para shahabatnya serta panglima-panglima agung dari Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Perlak, Kerajaan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam. 

Dan hanya masyarakat muslim Aceh-lah satu-satunya yang telah melahirkan panglima wanita gagah perkasa Laksamana Malahayati dengan pasukan tempurnya yang menakutkan penjajah Inong Bale.

Benturan Peradaban (clash of civilization) dalam tingkat lokal Indonesia tidak diragukan telah terjadi sejak diproklamirkannya kemerdekaan. Penghapusan sistem kesultanan dan kerajaan oleh Soekarno karena dianggap feodalisme, telah melahirkan sistem kepemimpinan tunggal secara nasional, yang pada hakikatnya adalah neo-feodalisme yang dibalut demokrasi dengan nama demokrasi terpimpin. Penolakan secara terbuka Soekarno terhadap Syariat Islam telah membuktikan mulai terjadinya benturan antara peradaban yang eksis berdasarkan Islam seperti di Aceh dengan peradaban sekuler atau selanjutnya dikenal dengan idiologi Nasakom (Nasionalisme,Agama dan Komonisme).

Pemaksaan idiologi ini terhadap masyarakat Aceh oleh Soekarno dengan berbagai cara, dapat diartikan sebagai upaya-upaya penghapusanperadaban Aceh yang berdasarkan pada ajaran Islam. Demikian halnya penerapan sistem sentralisasi kekuasaan dan penguatan idiologi nasional yang diterjemahkan secara kejawenisme oleh Soeharto yang selanjutnya dilanjutkan dengan pemberlakuan asas tunggal Pancasila telah meyakinkan generasi muda Islam bahwa Indonesia sedang diarahkan menuju negara Kejawenisme yang berbasiskan singkritisme Animisme, Dinamisme, Hindu, Budha, Islam, Kristendan lainnya. Bahkan secara terbuka Soeharto telah menterjemahkan Pancasila sebagai Hanacaraka Datasawala. Hal ini telah menimbulkan pemberontakan demi pemberontakan generasi muda Islam. 

Dalam hal ini generasi Aceh mendapat momentum yang tepat, karena pergolakan menentang regime Jakarta telah berlangsung dari generasi demi generasi. Dan sekali lagi Aceh menjadi pusat sentral perlawanan terhadap Jakarta, dibawah Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pasca Tsunami, kini sebenarnya Aceh telah menjadi semacam last frontier,benteng terakhir kaum Muslimin untuk mempertahankan tradisi dan peradaban Melayu-Sumatra yang berbasiskan Islam yang mana peradaban ini tidak sempat secara sempurna ditransformasikan kepada masyarakat Jawa, akibat masuknya kolonialis-imprialis Portugis, Belanda dan lainnya. Akibatnya peradaban Kejawenisme berbasis Hindu-Budha bangkit kembali dan mulai menguasai peradaban baru yang merekakemas dengan Pancasila dan Indonesia. Maka tidak diragukan, inilah tugas selanjutnyadari Ummah Aceh-Melayu-Sumatra untuk menyempurnakan proses Islamisasi yang telah dirintis para pendahulu kaum Muslimin. Dan tentu langkah ini mesti dimulai darikebangkitan ummah Aceh-Melayu-Sumatra terlebih dahulu. Dan untuk bangkit, tidak diragukan bahwa sejarah perjuangan perlu difahami kembali dengan benar.....Wallahu a’lam.............
Written by: Detikaceh
Informasi Sejarah Atjeh, Updated at: Wednesday, March 11, 2015

Post a Comment

 
Top