0
Tari Saman, Lahir Abad XIV dan Kini Mendunia

Gayo Lues – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar Tari Saman Massal yang akan diikuti oleh 5.057 penari. Kegiatan tersebut dirangkai dengan Pameran benda-benda bersejarah Gayo dan seminar mengenai asal usul Budaya Gayo itu. Kegiatan yang dirangkai dengan peresmian Bandara Senubung ini, dipusatkan di Stadion Seribu Bukit, Senin (24/11/2014).

Setelah menempuh perjalanan udara selama 45 menit dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Wakil Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf beserta rombongan tiba di Bandara Senubung tepat pukul 10:45 WIB, Senin (24/11/).

Di Bandara, Wagub diterima langsung oleh Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim S Sos, serta seluruh pejabat di jajaran Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dan dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkorpimda) setempat.

Sementara itu, ratusan masyarakat yang sudah sejak pagi hari berada di Bandara Senubung untuk menyaksikan pendaratan pertama pesawat komersil di daerah mereka, langsung menuju ke pesawat untuk melihat lebih dekat apa saja yang terdapat di dalam pesawat tersebut.

Hari ini ada dua pesawat yang mendarat perdana di Bandara tersebut, yang pertama mendarat adalah pesawat Susi Air berkapasitas 16 penumpang yang mengangkut anggota DPR-RI asal Aceh dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara dan Pesawat Jenis MAV yang mengangkut rombongan Wakil Gubernur.

Setelah mengikuti prosesi Peusijuek dan peresmian Bandara Senubung, Wagub beserta rombongan didampingi Bupati Gayo Lues, langsung menuju ke Stadion Seribu Bukit untuk membuka secara resmi Pagelaran Tari Saman Massal dan penyerahan duplikat sertifikat dari Unesco.

Tiba di stadion, Muzakir Manaf disambut dengan Salawat Badar oleh ribuan masyarakat dan peserta tari Saman Massal yang telah memadati lokasi acara. Panasnya matahari yang telah menemani ribuan penari dan penonton, tidak membuat mereka beranjak dari lokasi acara demi menyaksikan pemecahan rekor dunia tersebut.

Dalam sambutan singkatnya, Wagub menjelaskan, Pemerintah Aceh sangat mendukung kegiatan yang digagas oleh Pemkab Gayo Lues ini. Menurut Wagub, karena kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembangunan daerah tersebut.

“Rangkaian kegiatan ini merupakan langkah dan upaya kita untuk meningkatkan pembangunan di Aceh, khususnya pembangunan di Kabupaten Gayo Lues ini,” ujar Muzakir Manaf.

Wagub memaparkan, pengakuan dari United United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), yang secara resmi menyatakan bahwa Tari Saman  merupakan warisan budaya asli dari Tanah gayo, adalah suatu hal yang istimewa.

“Unesco merupakan lembaga resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikenal sangat berhati-hati dalam memberi pengakuan terhadap sebuah cagar budaya.  Ada banyak negara yang mengajukan permohonan kepada Unesco untuk mendapatkan pengakuan atas warisan budaya mereka, tapi Unesco tidak sembarangan memberi pengakuan tersebut. Mereka harus menelusuri asal usul budaya itu, keasliannya, keunikannya serta nilai-nilai sejarah yang ada di dalamnya,” terang Wagub.

Indonesia sendiri, sambung Wagub, baru mendapatkan enam pengakuan dari Unesco untuk warisan budaya kategori tak benda, yaitu  Wayang, Keris, kain Batik, Angklung, Subak di Bali dan Tari Saman yang merupakan  tarian rakyat dari Tanah Gayo. Pengakuan Unesco untuk Tari Saman ini disampaikan dalam sebuah pertemuan di Bali pada 24 November 2011 atau tepatnya tiga tahun yang lalu.

Sebagaimana diketahui bersama, pada September lalu, gubernur bersama sejumlah pejabat Pemerintah Aceh diundang oleh Unesco dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menerima serifikat pengakuan dari Unesco.

“Karena itu, pada hari ini saya datang ke Gayo Lues untuk menyerahkan setifikat tersebut kepada masyarakat Gayo, yang dalam hal ini diwakili Bupati Gayo Lues. Sertifikat itu memang hanya selembar kertas dari Unesco. Tapi di balik semua itu, ada pesan moral yang harus kita pikul ke depan, yaitu tanggungjawab untuk melestarikan dan mengembangkan Tari Saman agar tetap menjadi simbol dan  identitas bangsa,” tambah Mualem.

Sebagai mana kita ketahui, sejarah Tari Saman sangat erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di Aceh. Tari ini disebut Tari Saman karena  diciptakan seorang Ulama bernama Syekh Saman pada abad 14 Masehi.

Awalnya  tarian ini merupakan permainan rakyat yang kerap ditampilkan dalam pesta adat dan budaya di tanah Gayo. Karena sangat menarik, tari ini kemudian dikembangkan oleh penciptnya dengan diperkaya syair dan pujian kepada Allah SWT dan kemudian digunakan sebagai media syiar Islam.

Seiring perkembangan zaman, Tari Saman kini menjadi salah satu seni budaya yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah. Bukan hanya di Aceh, tapi juga di luar Aceh dan bahkan di luar negeri.  Begitu menariknya, sehingga Tari Saman kerap  menjadi icon Indonesia dalam berbagai festival budaya dunia.

“Pengakuan ini tentu membanggakan kita semua, sekaligus menjadi cemeti agar kita lebih peduli dengan seni budaya lokal. Dengan pengakuan ini, kita akan mendapatkan bantuan teknis dari Unesco untuk kepentingan pelestarian Tari Saman. Yang lebih penting,  pengakuan ini merupakan simbol eksistensi seni budaya dan kekayaan alam Indonesia yang menjadi identitas jati diri bangsa,” tambah Mualem.

Mualem: 24 November Hari Tari Saman.

Mengingat pentingnya menancapkan identitas Saman di bumi pertiwi ini, gubernur pun menyatakan setuju jika ada satu hari yang ditetapkan dan dinamakan sebagai Hari Tari Saman.

“Usulan menetapkan tanggal 24 November sebagai Hari Tari Saman, menurut saya sangat tepat karena bertepatan dengan hari pengakuan Unesco yang disampaikan di Bali tiga tahun lalu. Sebagai simbol ketetapan itu, hari ini  kita akan menyaksikan Tari Saman yang dimainkan oleh 5.057 orang putra-putri Gayo Lues.”

Mualem juga mengungkapkan, bahwa dirinya merupakan salah satu penggemar berat tarian ini. Mengingat betapa sulitnya memainkan tarian ini saat dimainkan 11 orang penari.

“Tapi yang akan kita saksikan sesaat lagi akan lebih mengejutkan lagi, karena Tari ini akan dimainkan oleh 5.057 penari. Bisa dibayangkan betapa tingginya tingkat kesulitan menjadikan tarian ini sebuah pertunjukkan kolosal.”

Dalam kesempatan tersebut, Mualem juga mengajak semua pihak untuk mengikuti serangkaian kegiatan lain yang tidak kalah menariknya, yakni Seminar mengkaji asal usul Budaya Gayo dan Pameran Benda Pusaka Gayo.

“Dua kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kita dalam rangka melestarikan budaya lokal. Kita tentu tahu, penelitian menggali asal usul budaya Gayo sudah banyak dilakukan para ahli sebelumnya. Melalui seminar ini, kita berharap akan terangkum hasil penelitian itu, sehingga akar Budaya Gayo bisa kita dapatkan secara lebih lengkap berdasarkan kajian ilmiah,” harap Gubernur.

Wakil Gubernur juga menghimbau kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah Gayo Lues, agar menjadikan prestasi yang telah dicapai dalam bidang seni budaya Tari Saman ini dapat dijadikan sebagi sarana untuk memperkuat eksistensi, persatuan dan kesatuan bangsa.

MURI Koreksi Jumlah Penari Saman

Dalam kegiatan tersebut Pemkab Gayo Lues juga menerima Sertifikat dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Lembaga pencatat rekor ini mengganjar Pagelaran Tari Saman yang digelar di Stadion Seribu Bukit itu, sebagai Sejarah Superlatif Rekor Dunia.

MURI juga melakukan koreksi atas jumlah peserta Tari Saman Massal ini. Sebelumnya dalam setiap kesempatan dan pada seluruh media promosi, pihak panitia menyebutkan bahwa jumlah peserta Tari Saman massal ini adalah 5.005 penari.

“Hari ini dengan bangga dan penuh hormat, MURI menganugerahkan rekor atas Tari Saman dengan peserta terbanyak yang tadi telah kami catat diikuti oleh 5.057 peserta. Rekor hari ini dengan bangga didedikasikan kepada segenap masyarakat Kabupaten Gayo Lues.”

Awalnya, para penari dan seluruh penonton serta para pejabat yang berada di tribun utama stadion sempat dibuat kecewa oleh perwakilan MURI, yang menyatakan agar masyarakat Aceh dan Gayo Lues jangan berbangga karena Tari Saman Massal hari ini tidak mungkin dicatat sebagai rekor nasional.

“Selamat atas pagelaran Tari Saman Massalnya. Namun, kami harus menyampaikan maaf karena berdasarkan catatan kami Pagelaran Tari hari ini tidak bisa kita catatkan sebagai rekor nasional di MURI.”

Mendengar pernyataan tersebut ribuan masyarakat dan penari yang telah bermandi peluh di Stadion Seribu Bukit mendadak terdiam. “Tapi Tari Saman Masssal hari ini, dengan penuh hormat kami nyatakan sebagai Rekor Dunia,” ujar perwakilan MURI yang disambut dengan sorakan gembira dan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.

Setelah pengucapan pencapaian rekor tersebut, perwakilan dari MURI langsung menyerahkan Sertifikat MURI tersebut kepada Wagub dan Bupati Gayo Lues, yang disaksikan oleh ribuan penari dan penonton yang telah memadati stadion kebanggaan masyarakat Gayo Lues itu. (Arunda)
Written by: Detikaceh
Informasi Sejarah Atjeh, Updated at: Sunday, January 11, 2015

Post a Comment

 
Top